Sabtu, Agustus 8
Shadow

BUMDes Marga Jaya Pringsewu Kembangkan Ternak Kambing, 100 Ekor Jadi Modal Ketahanan Pangan

Pringsewu, pedulihukum.com — BUMDes Marga Jaya Pekon Margosari, Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, terus mengembangkan usaha peternakan kambing melalui program ketahanan pangan. Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah pekon bersama BUMDes untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan dana ketahanan pangan secara produktif.

Pengelolaan ternak kambing BUMDes Marga Jaya menunjukkan perkembangan. Pada 2025, BUMDes merealisasikan pembelanjaan ternak hingga 100 persen dengan total 100 ekor kambing, terdiri dari 81 ekor pejantan dan 19 ekor betina.

Ketua BUMDes Marga Jaya, Didi Nurhadi, mengatakan pengelolaan ternak tersebut terus dilakukan secara bertahap. Hasil penjualan juga kembali dimanfaatkan untuk menambah modal usaha.

BUMDes Marga Jaya Realisasikan Ternak Kambing

Didi menjelaskan, program tersebut bermula dari anggaran ketahanan pangan tahun 2025. BUMDes kemudian merealisasikan pembelanjaan ternak sesuai dengan program yang telah direncanakan.

“Kita mendapat anggaran ketahanan pangan di tahun 2025 dan alhamdulilah ditahun itu kita sudah membelanjakan real 100% dengan total kambing pejantan 81 ekor, betina 19 ekor.

“Di tahun 2026 di bulan besar kita sudah panen 100℅ pejantan untuk betina tidak kami jual belikan dan di tahun 2026 ini kita belanjakan sudah mencapai 90% ada dua kandang yang belum terisi lagi untuk dua kandang ini akan di isi 5 ekor perkandang mungkin di minggu ini akan selesai 100%, jelasnya kepada wartawan ini Jum’at 7 Agustus 2026.

Menurut Didi, pengelolaan ternak dilakukan dengan memanfaatkan kandang yang telah tersedia. Pola tersebut membuat BUMDes tetap dapat menjalankan program peternakan meski belum bisa melakukan penambahan kandang baru.

Ternak Kambing Mengisi 14 Kandang

Hingga saat ini, BUMDes Marga Jaya telah membelanjakan 71 ekor kambing yang ditempatkan pada 14 kandang. Dua kandang lainnya masih dalam proses pengisian.

“Kambing yang sudah kami belanjakan 71 ekor sudah mengisi 14 kandang tinggal 2 kandang yang belum terisi, dua kandang tersebut akan kami isi 5 ekor perkandang dengan tambahan 2 ekor dari keuntungan penjualan sebelumnya.

Didi menyebut dua kandang tersebut dikelola oleh Sangidin dan Musakir. Keduanya berada di Dusun 4, RT 05 dan RT 06.

BUMDes Marga Jaya memiliki empat dusun. Pengelolaan kandang dilakukan dengan pembagian kepada masyarakat di masing-masing wilayah. Namun, jumlah kandang di setiap dusun tidak sepenuhnya sama karena menyesuaikan kondisi dan kemampuan pengelolaan.

“Dua kandang yang belum terisi tersebut di kelolah oleh Sangidin dan Musakir terletak di dusun 4 rt 05 dan rt 06, kami memiliki 4 Dusun jadi kami bagi rata dalam artiyan rata tapi tak sama di masing masing dusun ada yang memiliki 4 kandang ada juga yang hanya memiliki 2 kandang saja.

Pengembangan Ternak Kambing Masih Terkendala Anggaran

Meski program terus berjalan, BUMDes Marga Jaya masih menghadapi keterbatasan anggaran untuk memperluas usaha. Pada 2026, BUMDes belum dapat memastikan apakah akan kembali memperoleh anggaran ketahanan pangan dari pemerintah pekon.

Kondisi tersebut membuat pengembangan usaha sementara difokuskan pada kandang yang sudah tersedia. BUMDes juga memiliki pola kerja sama selama tujuh tahun dengan para penggarap atau peternak.

“Di tahun ini kami belum bisa menambah kandang lagi di karnakan untuk tahun ini kami belum mengetahui dapat atau tidak nya anggaran ketahanan pangan dari pemerintahan pekon untuk disalurkan ke BUMDes kami, jadi kita belum bisa melakukan pengembangan tetap di kandang kandang yang lama kita isi, karna kita ada kontrak 7 tahun dengan penggarap atau peternak jadi 7 tahun itu kita berputar putar di orang orang itu aja, paparnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesinambungan program peternakan sangat bergantung pada ketersediaan modal. Tanpa tambahan anggaran, BUMDes lebih memilih mengoptimalkan aset dan kandang yang sudah ada daripada memaksakan ekspansi.

Keuntungan Penjualan Kembali Jadi Modal

Didi menegaskan, keuntungan dari pengelolaan ternak tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan lain. Sebagian hasil usaha kembali diarahkan untuk memperkuat modal peternakan.

Dalam pengembangan berikutnya, BUMDes hanya mampu menambah dua ekor kambing yang diserahkan kepada Nur Hambali untuk diternakkan.

“Jadi dalam pengembangan ternak kami hanya mendapatkan 2 ekor kambing yang di serahkan kepada Nur Hambali guna diternak karna sebelum nya ia meminta ke pada BUMDes agar di percaya dan mau mengajak bekerja sama.

“Dikarna kan keuntungan dari modal sebelum nya hanya mampu menambahkan 2 ekor kambing guna penambahan modal, jadi hanya itu yang bisa kami berikan tidak bisa lebih.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa BUMDes berupaya mempertahankan siklus usaha. Keuntungan tidak hanya berhenti sebagai hasil penjualan, tetapi kembali menjadi bagian dari modal untuk menambah populasi ternak.

BUMDes Marga Jaya Menunggu Kepastian Anggaran 2026

Persoalan anggaran menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program ketahanan pangan di BUMDes Marga Jaya. Didi mengatakan pihaknya belum mengetahui kepastian alokasi anggaran ketahanan pangan dari pekon untuk 2026.

“Kita belum tahu di tahun 2026 dana ketahanan pangan untuk BUMDes dari pekon ada atau tidak dikarnakan Anggaran Dana Desa mengalami potongan untuk (KDMP) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, tambah nya.

Kondisi tersebut membuat BUMDes harus berhati-hati dalam menentukan langkah pengembangan. Penambahan kandang, pembelian ternak, hingga perluasan kemitraan dengan masyarakat membutuhkan dukungan modal yang memadai.

Masih Banyak Peternak Ingin Bergabung

Didi menyebut peluang pengembangan ternak kambing di Pekon Margosari masih terbuka. Sejumlah warga yang berprofesi sebagai peternak disebut masih ingin menjalin kerja sama dengan BUMDes.

Namun, keterbatasan anggaran membuat BUMDes belum mampu mengakomodasi seluruh calon mitra. Kebutuhan kandang dan pengadaan kambing menjadi dua faktor utama yang harus dipenuhi agar kerja sama dapat diperluas.

“Kami berharap agara BUMDes tetap mendapatkan anggaran dana ketahanan pangan dikarnakan masih ingin melakukan pengembangan untuk peternakan kambing ini belum menyeluruh merata masih ada warga peternak yang ingin bekerja sama dengan BUMDes namun kami belum mampu mengatasi nya di karnakan kurang nya anggaran untuk pembuatan kandang dan pembelanjaan kambing, tutupnya.

Program BUMDes Marga Jaya tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang jumlah kambing yang berhasil dibeli atau dipanen. Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan ekonomi produktif yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Keberlanjutan program akan sangat ditentukan oleh kemampuan BUMDes menjaga siklus modal, mengelola ternak secara profesional, serta memastikan kemitraan dengan masyarakat berjalan secara transparan dan berkelanjutan.

Dengan penguatan modal dan pengelolaan yang konsisten, usaha ternak kambing berpotensi menjadi salah satu sumber ekonomi produktif bagi masyarakat Pekon Margosari sekaligus memperkuat peran BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa. (Doni)